SempurnanyaNikmat Seorang Murid terhadap Gurunya Apabila antara seorang guru dan murid telah mengumpulakan tiga hal berikut, maka sungguh sempurnalah nikmat yang besar bagi keduanya. hendaklah bisa mengetahui semua isinya seperti Imam Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin membuat sistem maqomat dengan taubat, sabar, zuhud, tawakal Brockleman seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam, Qamiโ€™ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya โ€˜Ulumuddin alGazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat. Diantara adab-adab yang telah disepakati para ulamaโ€™ dalam menuntut ilmu adalah adab murid kepada gurunya. Imam Ibnu Hazm berkata: โ€œPara ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qurโ€™an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan khalifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.โ€ (al-Adab as-Syarโ€™iah 1/408) Vay Tiแปn Trแบฃ Gรณp Theo Thรกng Chแป‰ Cแบงn Cmnd. - Adik-adik dalam kesempatan kali ini kita akan membahas tentang adab murid terhadap guru dalam kitab Ihya Ulumuddin. Adab murid terhadap guru merupakan suatu hal yang menjadi sorotan dalam era saat ini. Banyak sekali kita dengar perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh seorang murid terhadap gurunya. Padahal kita semua tahu bahwa guru adalah orang tua kita yang harus kita hormati, seperti kita menghormati ayah dan ibu. Beliau merupakan salah satu orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Lalu, bagaimana adab murid terhadap guru dalam kitab Ihya Ulumuddin. Simak penjelasannya berikut ini ! Baca Juga 10 Hadits Tentang Adab Terhadap Guru yang Perlu Kamu Ketahui Adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin yaitu 1. Mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan tercela Adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin yang pertama yaitu mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Hal ini bertujuan untuk memperoleh ilmu dalam kondisi suci batin, tidak dalam sifat hina dan tercela. Baca Juga Apakah Anak Perempuan Membuka Pintu Surga untuk Ayahnya? Ini 2 Hadits Penjelasannya 2. Menghindari hal-hal yang buruk Adab murid terhadap guru yang kedua yaitu menghindari hal-hal yang buruk. Hal buruk yang dimaksud adalah keterpautan dengan urusan dunia. Dengan meninggalkan urusan dunia, murid akan lebih fokus dalam menuntut ilmu. 3. Tidak sombong Adab murid yang ketiga yaitu tidak sombong. Tidak sombong karena ilmunya yang dimiliki saat ini lebih tinggi dari gurunya dan tidak menentang guru namun diserahkan semua urusan kepada gurunya. Rasulullah SAW. bersabda yang artinya sebagai berikut Terkini Ethics is a science that studies good and bad deeds in the process of carrying out an activity. Ethics is very important for life, especially ethics in the process of obtaining usefel knowledge. The importance of ethics emphasizes that ethics must be studied and applied, especially in the field of education in the process of gaining knowledge. Thinking about the ethics of elerning and learning, is the figure of Imam al-Ghazali, who is one of the scholars who understands the importance of ethics in a person. So I was interested in researching the thoughts og Imam al-Ghazali. The purpose of this research is to make us more aware of and apply the importance of an ethics that we must cultivate in ourselves, especially in the process of gaining knowlodge. In this study, the author uses quantitavive methods, namely conducting library research with data collection techniques by recording, analyzing, reading, and managing research from various books and scientific works that support this research by prioritizing primary data Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free ยฉ2021 The Authors. Published by Medan Re source Center This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ihya-Ulumuddin Lasmi Rambe Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia PENDAHULUAN Pendidikan sangat diperlukan dalam hidup untuk mengembangkan potensi dalam diri, dan sebagai suatu sistem yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya, serta bisa mengembangkan, mendorong untuk bisa menghasilkan ilmu pengetahuan, kecerdasan berfikir, dan berketerampilan yang baik. Pendidikan adalah suatu proses yang utama untuk mengembangkan potensi individu, agar lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang sempurna Jamali, 1896, p. 3. Dalam proses pembelajaran pasti memerlukan adanya sebuah etika. Etika adalah sifat atau tingkah laku, tabiat atau aturan terkait dengan baik buruk tindakan perbuatan manusia Rahmat Hidayat, 2018, p. 1. Etika sangat penting bagi kehidupan kita, apalagi etika dalam proses memperoleh ilmu yang bermanfaat. Etika merupakan mengamalan dari ilmu, dan sarana mencapai ilmu yang bermanfaat Rahmat Hidayat, 2018, p. 4. Dengan adanya etika akan menjadi pribadi yang adil terus belajar memperbaiki diri untuk menyempurnakan akhlaknya dalam hal apapun. Banyak tokoh Islam yang memiliki kepedulian pemikirannya tentang etika belajar dan pembelajaran, diantaranya adalah Tokoh Imam al-Ghazali, yang merupakan salah seorang ulama yang memahami tentang pengaruh pendidikan pada diri manusia Yaqin, 2004, p. 50. Menurut al-Ghazali akhlak/etika itu didefenisikan tentang kondisi yang menetap didalam jiwa, dimana semua prilaku bersumber darinya dengan penuh kemudahan tanpa memerlukan proses berfikir dan merenung. Apabila kondisi jiwanya menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang baik lagi terpuji, baik secara akal dan syariat, maka kondisi itu disebut sebagai etika yang baik. Tetapi apabila yang bersumber darinya adalah perbuatan yang jelek, maka kondisi itupun disebut dengan etika yang buruk Farhad, 2004, p. 57. Al-Ghazali berpendapat bahwa akhlak/etika bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan, akan tetapi harus menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan. Keadaan jiwa itu ada kalanya merupakan sifat alami yang didorong oleh fitrah manusia untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukannya. Perbuatan yang lahir itu akan menjadi tanda dan bukti bahwa seseorang itu mempunyai etika yang baik. Etika sebagai salah satu keseluruhan hidup manusia yang tujuannya adalah kebahagiaan A. Ghazali, 2000. Pentingnya beretika menegaskan bahwa etika itu harus lebih dipelajari dan diterapkan, terutama dalam bidang pendidikan dalam proses meraih suatu ilmu pengetahuan Abdullah, 2002, p. 30. Dengan pentingnya suatu etika maka saya pun tertarik untuk meneliti tentang Etika Murid dan Guru Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya-Ulumuddin. Ethics is a science that studies good and bad deeds in the process of carrying out an activity. Ethics is very important for life, especially ethics in the process of obtaining usefel knowledge. The importance of ethics emphasizes that ethics must be studied and applied, especially in the field of education in the process of gaining knowledge. Thinking about the ethics of elerning and learning, is the figure of Imam al-Ghazali, who is one of the scholars who understands the importance of ethics in a person. So I was interested in researching the thoughts og Imam al-Ghazali. The purpose of this research is to make us more aware of and apply the importance of an ethics that we must cultivate in ourselves, especially in the process of gaining knowlodge. In this study, the author uses quantitavive methods, namely conducting library research with data collection techniques by recording, analyzing, reading, and managing research from various books and scientific works that support this research by prioritizing primary data Submitted Revised Accepted 01 September 2021 25 August 2021 18 August 2021 Ethics; al-Ghazali; Students and teachers CITATION APA 6th Edition Lasmi Rambe. 2021. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ihya-Ulumuddin. Hijaz. 11, 26-33 *CORRESPONDANCE AUTHOR Lasmirambe123 Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 27 PEMBAHASAN Biografi Imam Al-Ghazali Al-Ghazali mempunyai nama lengkap yaitu Abu Hamid Muhammad bin muhammad al-Ghazali. Dalam buku Mutiara Ihya-Ulmuddin namanya disebutkan yaitu, ia adalah Zainuddin, Hujjatun Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, at-Thusi an-Naysaburi, al-Faqih, as-Syufi, as-Syafii, al-๎˜„๎ž๎Ÿ‡๎ฅ›๎œ‚๎žŒ๎๎˜ƒ๎ฅพ๎˜„๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜ง๎š๎œ‚๎ŸŒ๎œ‚๎ฏ๎๎ฅ•๎˜ƒ๎งฎ๎งฌ๎งฌ๎งด๎ฅ•๎˜ƒ๎ž‰๎ฅ˜๎˜ƒ๎งต๎ฅฟ๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜ฏ๎œ‚๎˜ƒ๎ฏ๎œ‚๎š๎๎žŒ๎˜ƒ๎œš๎๎˜ƒkota kecil yang terletak di dekat Thus, Provinsi Khurasan, Repubik Islam Iran pada tahun 450 Hijriyah /1058 M Sirajuddin, 2007. Nama al-ghazali berasal dari kata ghazzal, yang artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah al-Ghazali adalah memintal benang wol. Sedangkan Ghazali diambil dari kata Ghazalah, yang artinya sebuah nama kampung kelahiran al-Ghazali, yang terakhir inilah yang banyak dipakai, sehingga namanya pun dinisbatkan kepada pekerjaan ayahnya, atau kepada tempat kelahirannya Nasution, 1999. Ayahnya adalah pemintol wol, dengan kehidupan yang sangat sederhana dan hanya mau makan dari hasil usahanya sendiri, dan sangat gemar mempelajari ilmu Tasawuf, dan juga terkenal pencinta ilmu dan selalu berdoa agar anaknya kelak menjadi seorang ulama. Tetapi ayahnya tidak dapat kesempatan untuk menyaksikan segala keinginan dan doanya tercapai. Ia meninggal sewaktu al-Ghazali dan saudaranya Ahmad masih kecil Hermawan and Sunarya, 1971, p. 18. Sebelum ayahnya meninggal ia menitipkan al-Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada seorang Sufi yang juga merupakan kerabat, yang bernama Ahmad ibn Muhammad al-Radzikani, ia adalah merupakan sufi, dengan tujuannya untuk dididik dan dibimbing dengan baik. Pendidikan Imam Al-Ghazali Sejak kecil al-Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu pengetahuan. Karenanya tidak heran jika sejak anak-anak ia telah belajar dengan sejumlah guru dikota kelahirannya Hermawan, p. 11. ia mulai mempelajari ilmu yaitu ilmu Fiqih, dan juga belajar menghafal syair-syair, tentang mahabbah cinta kepada Tuhan, Al-๎™™๎žต๎žŒ๎ฅ›๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎™ž๎žต๎ถ๎ถ๎œ‚๎š๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜˜๎๎œ‚๎ถ๎žš๎œ‚๎žŒ๎œ‚๎˜ƒ๎๎žต๎žŒ๎žต๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ๎ž‰๎œ‚๎œš๎œ‚๎˜ƒ๎Ÿ๎œ‚๎ฌ๎žš๎žต๎˜ƒ๎๎žš๎žต๎˜ƒ๎œ‚๎œš๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ๎˜„๎š๎ต๎œ‚๎œš๎˜ƒ๎๎œ๎ถ๎˜ƒ๎™„๎žต๎š๎œ‚๎ต๎ต๎œ‚๎œš๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ-Radzikani. Setelah itu ia pun dimasukkan ke sebuah sekolah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya. Disini gurunya adalah Yusuf an-Nassj, juga merupakan seorang sufi. setelah tamat ia pun melanjutkan pelajarannya ke kota Jurjan yang ketika itu juga menjadi pusat kegiataan ilmiah. Disini ia mendalami pengetahuan bahasa Arab dan Persia, disamping ia pun belajar pengetahuan agama. Gurunya diantaranya Imam Abu Nasr al-๎˜ฏ๎ž๎ต๎œ‚๎๎ฅ›๎ฏ๎๎˜ƒ๎ฅพ๎™…๎œ‚๎ž๎๎ฝ๎ถ๎œ‚๎ฏ๎ฅ•๎˜ƒ๎งฎ๎งฌ๎งฌ๎งญ๎ฅ•๎˜ƒ๎ž‰๎ฅ˜๎˜ƒ๎งฎ๎งฑ๎ฅฟ๎ฅ˜ Kemudian dimasa mudanya dalam usia 20-28 tahun ia pun pergi belajar ke Nisyapur, juga di Khurasan, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Kota yang kedua ini ia rajin mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh gurunya yaitu al-Haramain al-Juwaini yang merupakan guru besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyapur. Al-Ghazali belajar mengenai Teologi, Hukum Islam, Filsafat, Logika, Sufisme, dan ilmu-ilmu alam Syadani, 1997, p. 178. Dengan kecerdasan dan kemauannya dalam belajar yang luar biasa, al-Juwaini kemudian memberikan gelar Bahrum Mughriq laut yang menenggelamkan. Gurunya begitu membanggakannya sebagai sosok generasi yang mampu menggantikan posisi dan kedudukannya. Setelah Imam al-Juwaini meninggal dunia pada Tahun 478 H 1058 M, al-Ghazali pun meninggalkan Naysapur, kemudian ia berkunjung dan menghadiri majelis Wazir Nizam al-๎™„๎œ‚๎ฏ๎๎ฌ๎˜ƒ๎œš๎๎˜ƒ ๎ฌ๎ฝ๎žš๎œ‚๎˜ƒ ๎™„๎žต๎ฅ›๎œ‚๎ž๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎˜ƒ๎ฅพ๎˜ฌ๎œž๎žŒ๎ต๎œ‚๎Ÿ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎œ‚๎ถ๎œš๎˜ƒSunarya, 1971, p. 90. Nizham al-Muluk merupakan posisi strategis yang menjadi tumpuan para ulama yang suka bepergian dan menjadi tempat tujuan para imam serta orang-orang terkemuka. Dari berbagai diskusi dan perdebatan dengan orang-orang terkemuka disana, mereka mengakui keunggulan al-Ghazali. Sehingga namanya terkenal dan tersebar luas Farhad, 2004, p. 4. Untuk itu ia selalu mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang besar sehingga ia tinggal disana selama 6 tahun lamanya. Pada tahun 1090 M Nizam al-Muluk memintanya pergi ke Bahgdad untuk menjadi guru besar pada Madrasah an-Nizmahiyah Nasional, 2001, p. 26. Di Baghdad, popularitas dan derajatnya meningkat dikalangan para penguasa, para menteri, tokoh-tokoh masyarakat, dan para pemegang kekhalifahan/para pejabat Istana. Empat tahun lamanya al-Ghazali memangku jabatan yaitu sebagai pengajar di berbagai tempat, seperti di Bahgdad, Syam, dan Naisaburi, dan dimasa inilah dia banyak menulis buku-buku ilmiah dan Filsafat Hermawan, p. 90. Tetapi keadaan yang demikian tidak selamanya menentramkan hatinya. Di hatinya mulai mucul, inikah ilmu pengetahuan yang sebenarnya? Inikah cara hidup yang diridhai Allah? Bermacam-macam pertanyaan mucul dari hatinya. Akhirnya ia menyingkir dari kursi kebesaran, maka ia meninggalkan Bahgdad, meningggalkan semua kedudukannya, dan menyibukkan dirinya dengan ketakwaan A. Ghazali, 2008, p. 90. 28 Lasmi Rambe Pada tahun 488 H Beliau melaksanakan ibadah haji. Pada tahun 489 H, ia pun pergi ke Damaskus dan tinggal disitu selama beberapa waktu. Kemudian dari Damaskus ia pergi ke Baitul Maqdis, dan mulailah menulis bukunya, Al-Ihya. Ia mulai berjihad melawan hawa nafsu, mengubah akhlak, memperbaiki watak, dan menempa hidupnya. Setelah beberapa waktu di damaskus al-Ghazali kembali kepada tugasnya semula, mengajar di Madrasah Nizamiyah, memenuhi panggilan Fakhr al-Mulk, putra Nizam al-Mulk. Akan tetapi, tugas mengajar tidak lama dijalankan. Ia kembali ke Thus kota kelahirannya. Disana ia mendirikan sebuah halaqah sekolah khusus untuk calon sufi yang diasuhnya sampai ia wafat Nasional, 2001, p. 27. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya al-Ghazali mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, dan ia pun sudah memperoleh kebenaran yang hakiki jalan sufi. al-Ghazali pun meninggal dunia dengan tutup usia 55 Tahun tepat pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505 H/1111 M, dan dikuburkan di Thus Hermawan, p. 90. Al-Ghazali meniggalkan beberapa anak perempuannya, sedangkan anak laki-lakinya Hamid sudah terlebih mendahuluinya. Karya-karya Imam al-Ghazali Al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir besar dalam dunia Islam yang banyak melahirkan karya tulis. Penguasaan atas ilmu-ilmu yang dimilikinya, dibuktikan secara kuat lewat buku yang ditulisnya. Beliau merupakan seorang yang produktif dalam menulis karya-karya Ilmiahnya. Kitab Ihya-Ulumuddin merupakan karya al-Ghazali yang populer yang memadukan pemikiran Fiqhiyah dengan pemikiran Tasawuf dalam satu gagasan yang utuh. Al-Ghazali menulis hampir 100 buah buku. Bukunya itu meliputi berbagai ilmu pengetahuan, seperti ilmu kalam teologi Islam, Fikih hukum Islam, Tasawuf, Akhlak, dan autobiografi. Karangannya ia tulis dalam bahasa Arab Persia Nasional, 2001, p. 25. Dijelaskan dalam pengantar buku karya al-Ghazali yang berjudul Mutiara Ihya-ulumuddin bahwa al-faqih Muhammad bin al-Hasan bin Abdullah Alhusaini di dalam kitabnya Ath-Thabaqaat al-Aliyyah Fii Manaqibi as-๎˜„๎ž๎œจ๎๎ฅ›๎๎Ÿ‡๎Ÿ‡๎œ‚๎š๎˜ƒmenyebutkan 98 karangan A. Ghazali, 2008, p. 11. As-Subki menyebutkan didalam kitab Thabaqaat As-๎™ž๎š๎œ‚๎œจ๎๎ฅ›๎๎Ÿ‡๎Ÿ‡๎œ‚๎š๎˜ƒbahwa karangan Imam al-Ghazali mencapai 58 karangan, sedangkan Thasy Kubra Zadeh menyebutkan di dalam Kitab ๎™„๎๎œจ๎žš๎œ‚๎œ‚๎š๎žต๎ž๎˜ƒ๎™ž๎œ‚๎ฅ›๎œ‚๎œš๎œ‚๎š๎˜ƒ๎Ÿ๎œ‚๎˜ƒ๎™„๎๎ž๎œ๎œ‚๎š๎žต๎ž๎˜ƒ๎™ž๎๎Ÿ‡๎œ‚๎œ‚๎œš๎œ‚๎š๎˜ƒ๎œ๎œ‚๎š๎Ÿ๎œ‚๎˜ƒ๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ-Ghazali mencapai 80 kitab. Berikut ini merupakan beberapa warisan dari karya Ilmiah yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam yaitu sebagai berikut 1. Dalam Bidang ilmu Filsafat Tahfut al-Falasifah kekacauan pikiran para Pilosof, Maqasid al-Falasifah Pemikiran para Pil๎ฝ๎ž๎ฝ๎œจ๎ฅฟ๎ฅ•๎˜ƒ๎™„๎๎ฅ›๎Ÿ‡๎œ‚๎žŒ๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ-Ilm kriteria Ilmu-ilmu. 2. Bidang ilmu akhlak dantasawuf Ihya-Ulumuddin menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama, Al-Minqidz Min ad-Dhalal penyelamat dari kesesatan, Ayyuhal Walad wahai anak yaitu tentang akhlak seorang anak, Al-Adab fi ad-Din adab dalam Agama, Bidayah al-Hidayah permulaan mencapai petunjuk, Minhajul Abidin pedoman beribadah, Al-Hikmah Fii Makhluqaatillah Azza Wazalla mendekatkan diri kepada Allah, Kimiya as-๎™ž๎œ‚๎ฅ›๎œ‚๎œš๎œ‚๎š๎ฅ•๎ฅพ๎ฌ๎๎ต๎๎œ‚๎˜ƒkebahagiaan,Mijanul Amal timbangan amal, Misyakatul Anwar lampu yang bersinar banyak, Al-๎˜ฏ๎ต๎ฏ๎œ‚๎ฅ›๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎˜ƒ๎™„๎žต๎ž๎Ÿ‡๎ฌ๎๎ฏ๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ-Ihya. latihan atas masalah dalam kehidupan. 3. Dalam bidang Ilmu Tafsir Jawahir Al-๎ž‹๎žต๎žŒ๎ฅ›๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎ฅพ๎žŒ๎œ‚๎š๎œ‚๎ž๎๎œ‚๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ ๎žš๎œž๎žŒ๎ฌ๎œ‚๎ถ๎œš๎žต๎ถ๎๎˜ƒ ๎œš๎๎œš๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎˜ƒ ๎œ‚๎ฏ-๎ž‹๎žต๎žŒ๎ฅ›๎œ‚๎ถ๎ฅฟ๎ฅ•๎˜ƒ ๎˜ฌ๎žต๎ฉ๎ฉ๎œ‚๎žš๎žต๎ฏ๎˜ƒ ๎˜ฌ๎œ‚๎ž‹๎˜ƒ ๎ฅพ๎žš๎œž๎ถ๎žš๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒbukti kebenaran. 4. Dalam bidang Fiqih/ Ushul Fiqih Al-Mustashfa pilihan, Al-Basith Fii al-๎œจ๎žต๎žŒ๎žต๎ฅ›๎˜ƒ๎ฅพ๎ž‰๎œž๎ต๎œ๎œ‚๎š๎œ‚๎ž๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎œš๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎ฅฟ๎ฅ•๎˜ƒ ๎˜„๎ฏ-wasith perantara, Khulashah al-Mukhtashar intisari ringkasan karangan, Al-Wajiz surat wasiat, Syifa al-Ghalil fii al-Qiyas Wa at-๎žš๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎๎ฏ๎˜ƒ๎ฅพ๎˜ƒ๎ฝ๎œ๎œ‚๎žš๎ฅฌ๎ž‰๎œž๎ถ๎Ÿ‡๎œž๎ต๎œ๎žต๎š๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎œ๎œ‚๎๎ฌ๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎˜ƒ๎™™๎๎Ÿ‡๎œ‚๎ž๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎™ค๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎๎ฏ๎ฅฟ๎ฅ˜ 5. Dalam bidang Ilmu Kalam Risalah Fii al-๎™ด๎œ‚๎ฅ›๎ŸŒ๎š๎˜ƒ๎Ÿ๎œ‚๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ-aqaid, Iljaamu al-๎˜„๎Ÿ๎Ÿ๎œ‚๎ต๎˜ƒ๎ฅš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎๎ฏ๎ต๎žต๎˜ƒ๎ฌ๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎˜ƒ๎ฅพ๎ต๎œž๎ถ๎๎š๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ถ๎๎๎˜ƒ๎ฝ๎žŒ๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒawam dari ilmu kalam, Al-Iqtishad fii al-๎˜ฏ๎ฅ›๎žš๎๎ž‹๎œ‚๎œš๎˜ƒ๎ฅพ๎ต๎ฝ๎œš๎œž๎žŒ๎œ‚๎ž๎๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎˜ƒ๎œ‚๎ž‹๎๎œš๎œ‚๎š๎ฅฟ๎ฅ˜๎˜ƒ E. Dinamika dan Tokoh yang Mempengaruhi Pemikiran al-Ghazali Al-Ghazali adalah sosok pemikir dan ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap peradaban Islam Hermawan, p. 93, sehingga ia dikenal sebagai Hujjah al-Islam. Edukasi dan karya-karyanya banyak Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 29 mengembangkan pemikiran Islam diberbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama dibidang ilmu tasawuf. Dinamika pemikiran al-Ghazali sangat identik dengan pemikiran sufistiknya. Al-Ghazali telah berusaha untuk mengubah istilah-istilah yang sulit menjadi mudah bagi pemahaman orang awam karena kepandaian gaya bahasanya. Melalui pendekatan sufistik inilah al-Ghazali berupaya mengembalikan Islam kepada sumber fundamental, serta memberikan tempat kehidupan keagamaan dalam sistemnya. Hal inilah yang menentukan mengapa ajaran-ajaran Tasawuf yang merupakan upaya spritualisasi Islam banyak tersebar diberbagai wilayah dunia Islam hingga sekarang Syukur and Masyharuddin, 2002. Pemikiran sufistik al-Ghazali banyak ia pelajari dari guru-gurunya yang dahulu, seperti Ahmad bin Muhammad al-Radzikani, Yusuf an-Nassj yaitu merupakan seorang sufi. Kemudian ia berguru kepada Imam Haramain a-Juwaini ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎ต๎œž๎žŒ๎žต๎ž‰๎œ‚๎ฌ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ž๎œž๎ฝ๎žŒ๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎œ‚๎š๎ฏ๎๎˜ƒ๎žš๎œž๎ฝ๎ฏ๎ฝ๎๎๎˜ƒ๎˜„๎ž๎ฅ›๎œ‚๎žŒ๎๎Ÿ‡๎œ‚๎š๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎žš๎œž๎žŒ๎ฌ๎œž๎ถ๎œ‚๎ฏ๎˜ƒ๎ž‰๎œ‚๎œš๎œ‚๎˜ƒ๎ต๎œ‚๎ž๎œ‚๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ฝ๎žŒ๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎žš๎œž๎žŒ๎ฌ๎œž๎ต๎žต๎ฌ๎œ‚๎˜ƒ๎œš๎๎ž‰๎œž๎žŒ๎๎žต๎žŒ๎žต๎œ‚๎ถ๎˜ƒNizamiyah nisyapur Dedi Supriyadi, 2009. Kecerdasan al-Ghazali sangat disenangi dan dibanggakan oleh gurunya yaitu Imam al-Haramain, dan memberikan gelar kepada al-Ghazali yaitu Bahrum Mugriq laut yang menenggelamkan. Setelah Imam Haramain wafat, al-Ghaz๎œ‚๎ฏ๎๎˜ƒ ๎ž‰๎žต๎ถ๎˜ƒ ๎ต๎œž๎ถ๎๎ถ๎๎๎œ‚๎ฏ๎ฌ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎™…๎๎ž๎Ÿ‡๎œ‚๎ž‰๎žต๎žŒ๎˜ƒ ๎ฌ๎œž๎ต๎žต๎œš๎๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎œ๎œž๎žŒ๎ฌ๎žต๎ถ๎ฉ๎žต๎ถ๎๎˜ƒ ๎ฌ๎œž๎˜ƒ ๎ฌ๎ฝ๎žš๎œ‚๎˜ƒ ๎™„๎žต๎œ‚๎ž๎ฅ›๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎ฅ˜๎˜ƒ ๎˜„๎ฏ-Ghazali selalu berpindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk mencari suasana baru dalam mendalami ilmu pengetahuan dan mengajarkannya Ahmad, 1975. Kedatangan al-Ghazali disambut oleh Nizam al-๎™„๎žต๎ฏ๎ฌ๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ ๎ต๎œž๎žŒ๎žต๎ž‰๎œ‚๎ฌ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎ต๎œž๎ถ๎žš๎œž๎žŒ๎๎˜ƒ ๎™„๎žต๎œ‚๎ž๎ฅ›๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎ฅ•๎˜ƒ ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎ต๎œž๎ต๎๎ถ๎žš๎œ‚๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒuntuk menjadi guru Besar di Perguruan Nizamiyah Bahgdad. Pengangkatannya ini didasarkan atas pengetahuannya yang hebat Zar, 2004. Dikota inilah ia menulis buku-buku ilmiahnya, dan mulai berkonflik terutama dengan golongan ๎˜‘๎œ‚๎žš๎š๎๎ถ๎๎Ÿ‡๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎˜ฏ๎ž๎ต๎œ‚๎ฅ›๎๎ฏ๎๎Ÿ‡๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎ฌ๎œ‚๎žต๎ต๎˜ƒ ๎œจ๎๎ฏ๎ฝ๎ž๎ฝ๎œจ๎ฅ˜๎˜ƒ ๎˜„๎ฏ-Ghazali memahami filsafat dengan seksama, terus mengulang-ulang kajiannya dan meneliti yang terkandung didalam. Pada saat itulah al-Ghazali menyingkap dan membedakan unsur yang benar dan yang Cuma khayatan Abburrazak, 2003. Al-Ghazali tidak menyerang semua cabang filsafat, kecuali tentang Filsafat Ketuhanan. Al-Ghazali melakukan penyerangan kaum filosof karena menurutnya mereka berlebihan menggunakan akal. Dari beberapa sanggahan yang diberikan al-Ghazali, ada tiga pendapat yang dikufurkannya, yaitu Pertama, Tentang paham qadimnya alam. Pahamnya qadim menurut al-Ghazali bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan oleh Tuhan, dan ini bertentangan dengan ajaran Al-Qu๎žŒ๎ฅ›๎œ‚๎ถ๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ ๎œ๎žต๎ฌ๎žต๎ž‰๎˜ƒ ๎ฉ๎œž๎ฏ๎œ‚๎ž๎˜ƒ ๎œ๎œ‚๎š๎Ÿ๎œ‚๎˜ƒ ๎™ค๎žต๎š๎œ‚๎ถ๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒmenciptakan segenap alam. Menurut al-Ghazali pandangan filosof al-Farabi dan Ibnu sina keliru dalam memaknai ๎ž‹๎œ‚๎œš๎๎ต๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎œ‚๎ŸŒ๎œ‚๎ฏ๎๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜ผ๎œž๎œš๎žต๎œ‚๎ฅ•๎˜ƒ๎™ค๎œž๎ถ๎žš๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎ž‰๎œ‚๎š๎œ‚๎ต๎˜ƒ๎œ๎œ‚๎š๎Ÿ๎œ‚๎˜ƒ๎™ค๎žต๎š๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎žš๎๎œš๎œ‚๎ฌ๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎๎œž๎žš๎œ‚๎š๎žต๎๎˜ƒ๎ฉ๎žต๎ŸŒ๎ฅ›๎๎Ÿ‡๎Ÿ‡๎œ‚๎žš๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜„๎ฏ-Ghazali menampilkan pandangan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan Kulliyat umum. Ketiga, tentang paham pengingkaran kebangkitan jasmani di Alam Kubur/Akhirat. Para filsuf berpendapat bahwa yang abadi hanyalah roh jiwa, sedangkan jasmani akan hancur dan tidak kekal. Karena itu pembangkitan nanti pada prinsipnya yang esensi dalam diri manusia adalah jiwanya, bukan jasmaninya, tetapi pembalasan ukhwari menuntut pembangkitan jasmani Nasional, 2001, p. 26. Pertingkaian yang terjadi antara al-Ghazali dengan filosof muslim menjadi sejarah yang panjang dalam dunia filsafat. Pada tahun 1095 al-Ghazali pergi meninggalkan Baghdad dan profesinya sebagai guru, dan pergi mengembara dari satu tempat ketempat lain. Keluarganya pun ditinggalkannya setelah diberi bekal secukupnya. Selama 10 tahun ia menjalani kehidupan sebagai seorang sufi, dan banyak yang tidak mengenalnya lagi. Kemudian ia mengurung diri di dalam mesjid Damascus. Disinilah ia menulis kitabnya Ihya-Ulumuddin yang merupakan perpaduan antara fiqih dan Tasawuf. Pengaruh buku ini menyelimuti seluruh dunia Islam dan masih terasa kuat sampai sekarang. Kehidupan al-Ghazali pada masa tuanya telah mantap coraknya menjadi sufi. dan ia berkeyakinan bahwa tasawuf adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran hakikiNasional, 2001, p. 27 . Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Istilah yang menghubungkan pengertian murid yaitu al-๎™„๎žต๎žš๎œ‚๎ฅ›๎œ‚๎ฏ๎ฏ๎๎ต๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜ผ๎œ‚๎žš๎œ‚๎˜ƒ ๎๎ถ๎๎˜ƒ ๎œ๎œž๎žŒ๎œ‚๎ž๎œ‚๎ฏ๎˜ƒ ๎œš๎œ‚๎žŒ๎๎˜ƒ ๎œ๎œ‚๎š๎œ‚๎ž๎œ‚๎˜ƒ๎˜„๎žŒ๎œ‚๎œ๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎๎žš๎žต๎ฅ•๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ๎ฏ๎œ‚๎ต๎œ‚๎ฅ•๎˜ƒ๎Ÿ‡๎žต๎ฅ›๎œ‚๎ฏ๎ฏ๎๎ต๎žต๎ฅ•๎˜ƒ๎žš๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎๎ต๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎œ๎œž๎žŒ๎œ‚๎žŒ๎žš๎๎˜ƒ orang yang mencari ilmu pengetahuan. Kata inilah yang ditulis al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya-๎™จ๎ฏ๎žต๎ต๎žต๎œš๎œš๎๎ถ๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎๎žš๎žต๎˜ƒ ๎ž‰๎œ‚๎œš๎š๎๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎™ค๎œ‚๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎ฏ๎žต๎ต๎๎ฅ•๎˜ƒ ๎ฅพ ๓ฐ“Š๓ฐ‘ณ๓ฐ˜ท๓ฐŽš๓ฐŸ ๎˜ƒ๓ฐ’๓ฐ ๓ฐ‘ณ๓ฐ…๓ฐŠ™ yaitu tentang keutamanan menuntut ilmuIhya. Istilah at-๎™ค๎œ‚๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎ฏ๎žต๎ต๎๎˜ƒ ๎๎ถ๎๎˜ƒ ๎ฏ๎œž๎œ๎๎š๎˜ƒ ๎œ๎œž๎žŒ๎ž๎๎œจ๎œ‚๎žš๎˜ƒ ๎žต๎ถ๎๎Ÿ€๎œž๎žŒ๎ž๎œ‚๎ฏ๎ฅ•๎˜ƒ ๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎œž๎ถ๎œ‚๎˜ƒ ๎ต๎œž๎ถ๎œ๎œ‚๎ฌ๎žต๎ž‰ semua orang yang menuntut ilmu pada semua tingkatan. 30 Lasmi Rambe Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi kita, dengan adanya ilmu maka kita akan mengetahui dengan baik dari segala sesuatu, dan bisa memahami dan menyempurnakan dengan penjelasan yang terperinci, dan meyakinkan tanpa kebimbangan dan keraguan dalam memperoleh ilmu A. Ghazali, 2008, p. 27. Orang berilmu mempunyai kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT. Kedudukan tersebut diberikan kepada hamba yang mampu menggunakan akal pikirannya dengan baik. Dalil-dalil yang menjadi keutamaan dalam menuntut ilmu dalam kitab Ihya-Ulumuddin yaitu sebagaimana sabda Rasulullah saw A. Ghazali, 2008, p. 463 ๎˜ƒ๓ฐ‰ฃ๓ฐ’‘๓ฐˆ ๓ฐ‰ฑ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ“Š๓ฐ š๓ฐน๓ฐˆ ๓ฐ”ƒ๓ฐˆž๓ฐ•ฃ๓ฐˆž๓ฐ’‰๓ฐ ž๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐ๓ฐˆž๓ฐŽš๓ฐˆž๓ฐŠฎ๓ฐ š๓ฐ‘ฌ ๎˜ƒ๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐ’ฝ๓ฐˆž๓ฐŠฎ๓ฐˆž๓ฐ‹ผ๓ฐˆ ๓ฐ’ฃ๓ฐˆข๓ฐ‹ฉ๓ฐ š๓ฐ‰ฐ ๓ฐ‰ผ๓ฐˆ›๓ฐŽ”๓ฐ œ๓ฐŒฝ ๎˜ƒ๓ฐˆ ๓ฐ‹‚๓ฐˆ ๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐŽญ๓ฐˆ ๓ฐ‘ฌ ๎˜ƒ๓ฐˆ ๓ฐ’๓ฐ ž๓ฐ‘ณ๓ฐˆ ๓ฐ…๓ฐ ž๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜„๎žŒ๎žš๎๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎ฅ—๎˜ƒ ๎ฅž๎˜ƒ ๎ž‰๎œ‚๎žŒ๎œ‚๎˜ƒ ๎ต๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎๎ฌ๎œ‚๎žš๎˜ƒ membentangkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai kerelaan terhadap ๎ž‰๎œž๎žŒ๎œ๎žต๎œ‚๎žš๎œ‚๎ถ๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎ฅŸ Pentingnya ilmu pada manusia terutama pada diri kita sendiri, maka haruslah mempunyai ilmu yaitu dengan proses pembelajaran, dengan belajar nantinya kita akan mengetahui tentang ilmu-ilmu yang akan bermanfaat bagi kita kemasa depannya. Dan Allah swt pun sangat memuliakan orang-orang mempunyai ilmu dan akan mengangkat derajatnya karena dengan ilmunya ia akan bisa berfikir dengan jernih tentang apa yang akan dikerjakannya. Sebagaimana firman Allah di dalam Al-๎ž‹๎žต๎žŒ๎ฅ›๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎žš๎œž๎ถ๎žš๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ฏ๎๎ฏ-dalil keutamaan ilmu seperti dalam QS Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi A. Ghazali, 2008, p. 23 ๎˜ƒ๓ฐ œ๓ฐ๓ฐˆž๓ฐŸ๓ฐˆข๓ฐ๓ฐˆž๓ฐ”ˆ ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐกš๓ฐ•ง๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’ฌ๓ฐ”ˆ ๓ฐˆ ๓ฐŒฏ๓ฐกš๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ๓ฐ“ก ๓ฐˆŸ๓ฐ’ฃ๓ฐˆž๓ฐ’…๓ฐ‰ฏ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’๓ฐ ›๓ฐญ๓ฐˆข๓ฐ’ฃ๓ฐˆ ๓ฐ’… ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’ฌ๓ฐ”ˆ ๓ฐˆ ๓ฐŒฏ๓ฐกš๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ๓ฐ“ก๓ฐˆŸ๓ฐŠ™๓ฐ“๓ฐ ›๓ฐ‰ฐ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’๓ฐ ž๓ฐ‘ณ๓ฐˆ ๓ฐ…๓ฐ ž๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆ๓ฐŠ„๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐ‹ฉ๓ฐˆž๓ฐŒฝ๓ฐˆž๓ฐŒŸ๓ฐ ฑ๎˜ƒ ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐกš๓ฐ•ง๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐˆ ๓ฐ˜๎˜ƒ๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐ’‰ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’‘๓ฐ“ก ๓ฐ ›๓ฐ‘ณ๓ฐˆž๓ฐ’‰๓ฐˆข๓ฐ…๓ฐˆž๓ฐŠ™ ๎˜ƒ๓ฐˆœ๓ฐขŸ๓ฐฃŒ๓ฐˆ ๓ฐŠญ๓ฐˆž๓ฐ‹ซ Yang artinya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan. Guru dalam pandangan al-Ghazali ialah at-๎™ค๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎๎ต๎๎ฅ• yang berarti mengetahui. Dalam kitabnya ditulis yaitu ๎˜ฆ๎œ‚๎œš๎๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ๎™ค๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎๎ต๎๎ฅ•๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎œ‚๎žŒ๎žš๎๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ๎ฌ๎œž๎žต๎žš๎œ‚๎ต๎œ‚๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎๎œ‚๎ฉ๎œ‚๎žŒ๎ฅ˜๎˜ƒ๎™„๎œ‚๎ฌ๎œ‚๎˜ƒ๎๎žต๎žŒ๎žต๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ž‰๎œ‚๎žš๎˜ƒ๎œš๎๎œ‚๎žŒ๎žš๎๎ฌ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ฝ๎žŒ๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎๎œ‚๎ฉ๎œ‚๎žŒ๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ฝ๎žŒ๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒberpengetahuan. Guru adalah orang yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu guru mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam. Al-Ghazali berpendapat bahwa guru disebut sebagai orang-orang yang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun. Sebagaimana dalam QS at-Taubah ayat 122 yang berbunyi ๎˜ƒ๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐ’…๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’‘๓ฐ‰ผ๓ฐ š๓ฐœ‰ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’‘๓ฐˆข๓ฐ“ก๓ฐˆŸ๓ฐ’ฃ๓ฐˆ ๓ฐ’…๓ฐˆข๓ฐ“ ๓ฐˆŸ๓ฐ’‰๓ฐ ž๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆข๓ฐ“๓ฐˆŸ๓ฐ๓ฐˆ ๓ฐฉ๓ฐˆข๓ฐ’ฃ๓ฐˆž๓ฐ”™๓ฐˆ ๓ฐ‘ฌ ๎˜ƒ๓ฐ ฎ๓ฐˆ›๓ฐ“Š๓ฐ‰ฃ๓ฐŸ๓ฐ น๓ฐ‰ผ๓ฐ š๓ฐœ‰ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ•Ÿ๓ฐˆข๓ฐ“ก๓ฐ š๓ฐ‘ณ๓ฐˆž๓ฐŸ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ๓ฐˆž๓ฐฉ๓ฐˆž๓ฐ’š ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’ฌ๓ฐˆ ๓ฐ’… ๎˜ƒ๓ฐ‰ฅ๓ฐ‘บ๓ฐ ›๓ฐœ‰ ๎˜ƒ๓ฐˆ๓ฐ“Š๓ฐˆž๓ฐ‚๓ฐˆข๓ฐ๓ฐˆ ๓ฐŸ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’๓ฐˆŸ๓ฐ’ฝ๓ฐˆข๓ฐ’ฃ๓ฐ‰ฅ๓ฐ’… ๎˜ƒ๓ฐˆœ๓ฐ“Š๓ฐˆž๓ฐฉ๓ฐ‰ญ๓ฐ”‡๓ฐ น๓ฐ‰ผ๓ฐˆž๓ฐŽฉ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆข๓ฐ“ก๓ฐˆŸ๓ฐ’ฝ๓ฐ‰ฃ๓ฐ‡๓ฐˆž๓ฐฉ๓ฐˆž๓ฐŠฎ๓ฐˆž๓ฐ”™๓ฐกœ๓ฐ‘ฌ ๎˜ƒ๓ฐˆ ๓ฐกฑ๓ฐฃค ๎˜ƒ๓ฐ œ๓ฐ’ฌ๓ฐˆข๓ฐ”ˆ๓ฐ‰ฅ๓ฐŒฎ๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆข๓ฐ“๓ฐˆŸ๓ฐŒฝ๓ฐˆ ๓ฐŒฏ๓ฐˆข๓ฐ’ฃ๓ฐˆŸ๓ฐ”™๓ฐˆ ๓ฐ‘ฌ๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’๓ฐˆŸ๓ฐ’ฝ๓ฐˆž๓ฐ’…๓ฐˆข๓ฐ“ก๓ฐˆž๓ฐ‚ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆž๓ฐŒ ๓ฐˆ ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆฃ๓ฐˆข๓ฐ“ก๓ฐˆŸ๓ฐ…๓ฐˆž๓ฐ‹ฉ๓ฐˆž๓ฐŒฝ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’๓ฐˆ ๓ฐ’ฝ๓ฐˆข๓ฐ”™๓ฐ š๓ฐ‘ฌ๓ฐˆ ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’๓ฐˆŸ๓ฐ’ฝ๓ฐกš๓ฐ‘ณ๓ฐˆž๓ฐ…๓ฐ š๓ฐ‘ฌ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ‹ผ๓ฐˆž๓ฐ˜–๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’‘๓ฐˆข๓ฐ“๓ฐˆŸ๓ฐŒฝ๓ฐˆž๓ฐŒฏ Yang artinya Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semua pergi kemedan perang. Mengapa sebagian dari setiap golongan antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. Selanjutnya al-Ghazali menyimpulkan dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa guru merupakan pelita siraj segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya nur keilmiahannya. Andai kata seorang guru/pendidik itu tidak ada, maka niscaya manusia seperti binatang, sebab dengan pendidikan adalah upaya untuk mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan baik binatang buas maupun binatang jinak menuju kepada sifat insaniyah dan ilahiyah A. H. M. bin M. al Ghazali, 2008. Adapun keutamaan mengajarkan ilmu itu ditunjukkan dalam firman Allah swt dalam QS al-Imran [3]187 yang berbunyi ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐŒ ๓ฐˆ ๓ฐ‰ฒ๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐŒฏ๓ฐˆž๓ฐ‹ซ๓ฐ š๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐก๓ฐ•ง๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐฝ๓ฐ‰ผ๓ฐˆž๓ฐŠฏ๓ฐˆข๓ฐ”™๓ฐˆ ๓ฐ’… ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’ฌ๓ฐˆข๓ฐ”ˆ๓ฐˆ ๓ฐŒฏ๓ฐกš๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ๓ฐ“ก๓ฐˆŸ๓ฐŠ™๓ฐˆข๓ฐ“๓ฐ ›๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ‹‚๓ฐˆฐ๓ฐŠฎ๓ฐˆ ๓ฐ…๓ฐ ž๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆง๓ฐ“๓ฐ‰ฃ๓ฐ’ฃ๓ฐˆŸ๓ฐšŠ๓ฐ‰ฅ๓ฐ”™๓ฐˆž๓ฐ™ต๓ฐˆŸ๓ฐŠฎ๓ฐ š๓ฐ‘ฌ ๎˜ƒ๓ฐˆ ๓ฐ‘ฌ๎˜ƒ๓ฐ œ๓ฐก๓ฐ‰ผ๓ฐ‰ฃ๓ฐ’ฃ๓ฐ‘ณ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ•Ÿ๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐ ญ๓ฐˆง๓ฐ“๓ฐˆž๓ฐ’š๓ฐˆข๓ฐ“ก๓ฐˆŸ๓ฐ’‰๓ฐˆŸ๓ฐŠฎ๓ฐ ž๓ฐ…๓ฐˆž๓ฐŠ™ Artinya Dan ingatlah, ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab yaitu hendaklah kamu menerangkan isi kitab ini kepada manusia, dan janganlah kamu menyimbunyikannya. Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa apabila menyimbunyikan kebenaran dan mereka mengetahui itu, dan dalilnya yaitu tentang keharaman menyimbukan ilmu. Dan siapa-siapa yang menyimbunyikan maka sesungguhnya ia mengetahui, maka ia telah berdosa. Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 31 Rasulullah saw bersabda Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat dan penduduk langit dan bumi, sehingga semut-semut pada lubangnya, dan ikan-ikan dilautan, mereka akan bershalawat atas manusia yang mengajarkan kebaikan. Dan Rasulullah bersabda akan orang-orang yang berbuat kebaikan yaitu ๎˜ƒ๓ฐ‰ฒ ๓ฐˆž๓ฐŒ ๓ฐ‰ฑ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ’…๎˜ƒ ๓ฐˆž๓ฐŠ„๓ฐ‰ผ ๎˜ƒ๓ฐ’ฌ๓ฐŠ˜๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐ’๓ฐŒŸ๓ฐ‰ฏ ๎˜ƒ๓ฐˆž๓ฐ๓ฐˆž๓ฐŽญ๓ฐˆž๓ฐ‡๓ฐˆข๓ฐ’š๓ฐ‰ฒ ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐ“๓ฐ ›๓ฐ‘ณ๓ฐˆž๓ฐ’‰๓ฐˆž๓ฐŽฝ ๎˜ƒ๓ฐ‰ฃ๓ฐ•Ÿ๓ฐ‰ฑ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’ฌ๓ฐˆ ๓ฐ’… ๎˜ƒ๓ฐˆ ๓ฐ“Š๓ฐˆž๓ฐŠš๓ฐˆž๓ฐ•ฃ๓ฐˆž๓ฐŠš ๎˜ƒ๓ฐ‰ฃ๓ฐ•Ÿ๓ฐˆ ๓ฐ‰ฑ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ’ฌ๓ฐˆ ๓ฐ’… ๎˜ƒ๓ฐˆ๓ฐ“Š๓ฐˆž๓ฐ‚๓ฐˆž๓ฐŒฎ๓ฐˆž๓ฐŽ“ ๎˜ƒ๓ฐ…ณ ๓ฐˆ๓ฐ“Š๓ฐˆž๓ฐ—ต๓ฐ œ๓ฐŒฝ๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐ‹ฉ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ“๓ฐ š๓ฐ‰ฐ ๎˜ƒ๓ฐˆ๓ฐ’๓ฐ ž๓ฐ‘ณ๓ฐˆ ๓ฐŽฝ ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐ๓ฐˆž๓ฐฉ๓ฐˆž๓ฐŠฎ๓ฐˆข๓ฐšŠ๓ฐˆŸ๓ฐ”ˆ ๎˜ƒ๓ฐ…ณ ๓ฐˆ ๓ฐ“๓ฐˆ ๓ฐ˜ ๎˜ƒ๓ฐˆข๓ฐ“๓ฐ š๓ฐ‰ฐ ๎˜ƒ๓ฐˆ๓ฐŒฎ๓ฐ š๓ฐ‘ฌ๓ฐˆž๓ฐ“ ๎˜ƒ๓ฐ ™๓ฐŒŽ๓ฐˆ ๓ฐ‘ฌ๓ฐ‰ผ ๓ฐˆž๓ฐŽ“ ๎˜ƒ๓ฐ“ก ๓ฐˆŸ๓ฐŽฝ๓ฐˆข๓ฐŒฎ๓ฐˆž๓ฐ˜– ๎˜ƒ๓ฐˆŸ๓ฐ“๓ฐ š๓ฐ‘ฌ Artinya apabila mati anak adam, maka terputuslah amalnya, kecuali salah satu yang tiga yaitu sedekah Jariyah, atau ilmu yang bermanfaat dengannya, anak anak Sholeh yang selalu mendoakannya. Rasulullah berkata semoga Allah meridhoi Khalifahku. Dan sahabat dari bertanya siapa-siapakah khalifah yang dimaksud ya Rasulullah? Dan berkata Rasulullah, merekalah orang-orang yang mencintai sunnahku dan mengajarkan ilmu kepada hamba-๎š๎œ‚๎ต๎œ๎œ‚๎˜ƒ๎˜„๎ฏ๎ฏ๎œ‚๎š๎ฅ˜๎˜ƒ๎™„๎œž๎ถ๎๎œž๎ถ๎œ‚๎๎˜ƒ๎œ๎œž๎ฏ๎œ‚๎ฉ๎œ‚๎žŒ๎˜ƒ๎œš๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎๎œ‚๎ฉ๎œ‚๎žŒ๎ฅ•๎˜ƒ๎œš๎๎žŒ๎๎Ÿ๎œ‚๎Ÿ‡๎œ‚๎žš๎ฌ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎ฝ๎ฏ๎œž๎š๎˜ƒ๎™„๎žต๎œ‚๎ฅŸ๎œš๎ŸŒ๎˜ƒ๎œ๎๎ถ-Jabal ๎œ๎œ‚๎š๎Ÿ๎œ‚๎ž๎œ‚๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ ๎œ๎œž๎žŒ๎ฌ๎œ‚๎žš๎œ‚๎˜ƒ ๎๎œ‚๎ฅ—๎˜ƒ ๎ฅž๎™—๎œž๎ฏ๎œ‚๎ฉ๎œ‚๎žŒ๎๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎๎ฏ๎ต๎žต๎ฅ•๎˜ƒ ๎ž๎œž๎œ๎œ‚๎œ๎˜ƒ ๎ต๎œž๎ถ๎œ๎œ‚๎žŒ๎๎˜ƒ ๎๎ฏ๎ต๎žต๎˜ƒ ๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎œž๎ถ๎œ‚๎˜ƒ ๎˜„๎ฏ๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎œ‚๎œš๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎ฌ๎œž๎œ๎œ‚๎๎ฌ๎œ‚๎ถ๎ฅ•๎˜ƒ ๎ต๎œž๎ถ๎žต๎ถ๎žšutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad,mengajarkannya adalah sedekah, dan membelanjakan hartanya kepada ahlinya adalah kedekatan qurbah A. Ghazali, 2008, p. 25. Etika Belajar Murid menurut al-Ghazali dalam menuntut ilmu kita haruslah menerapkan adanya sebuah etika dalam pembelajaran. Karena etika seseorang itu merupakan indikator ciri-ciri antara kebahagiaan dan kesuksesannya, dan kurangnya etika merupakan tanda celaka dan binasanya seseorang Jawas, 2016, p. 106. Oleh karena itu seoranng penuntut ilmu wajiblah menjaga adab/etikanya terhadap guru. Diantara etika yang harus diterapkan yaitu dalam kitab Ihya-ulumuddin dijelaskan tentang etikanya seorang murid, dan telah disusun dalam tujuh bagian diantaranya yaitu Pertama, Mendahulukan kesucian jiwa dari pada kejelekan akhlak. Kebersihan yang dimaksud bukanlah dalam bentuk pakaian, melainkan dalam hati. Batin yang tidak bersih tidak akan dapat menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak akan disinari dengan ๎œ๎œ‚๎š๎œ‚๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒ๎๎ฏ๎ต๎žต๎ฅ˜๎˜ƒ๎™ž๎œž๎œ๎œ‚๎๎๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎™„๎žต๎š๎œ‚๎ž‹๎ž‹๎๎ž‹๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎๎œ‚๎žš๎œ‚๎ฌ๎œ‚๎ถ๎ฅŸ๎˜ƒ๎˜ผ๎œ‚๎ต๎๎˜ƒ๎ต๎œž๎ต๎ž‰๎œž๎ฏ๎œ‚๎ฉ๎œ‚๎žŒ๎๎˜ƒ๎๎ฏ๎ต๎žต๎˜ƒitu karena Allah swt, maka jika ilmu menolak kecuali dengan Allah, yakni ilmu tertolak dan tercegah dari kita, sehingga tidak menampakkan hakikatnya kepada kita. Kedua, Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya. Maksudnya adalah kita harus mensedikitkan hubungan dengan dunia, dan menjauhi diri dari keluarga dalam menuntut ilmu, sehingga hatinya hanya terikat kepada ilmu. Karena segala hubungan yang mempengaruhi hidup kita, maka kita tidak akan fokus dalam memperoleh ilmu. Dikatakan bahwa ilmu itu tidak memberikan kepadamu sepenuhnya sebelum engkau menyerahkan padanya seluruh jiwamu. Ketiga, Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan yang tidak terpuji kepada guru. Segala urusan kita harus menyerahkan segala urusannya kepadanya, seperti orang yang sakit menyerahkan urusannya kepada dokter tanpa memutuskan sendiri suatu keperluannya. Keempat, Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia. Orang yang pertama kali baru menerjunkan dirinya dalam menuntut ilmu, agar tidak mendengarkan tentang pendapat orang-orang yang berbeda-beda. Hal itu akan mewariskan kebigungan, karena hal yang pertama terjadi adalah kecenderungan pada hatinya, terutama pada pengabaiannya yang akan nantinya menyebabkan kemalasan A. Ghazali, 2008, p. 34. Kelima, Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga mengetahui hakikatnya. Karena dalam mencari dan memilih suatu ilmu, yang terpenting hanya dapat dilakukan setelah mengetahui suatu perkara secara keseluruhan. Keenam, mencurahkan perhatian pada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat. Ketahuilah bahwa semulia-mulia ilmu dan puncaknya adalah adalah pengenalan terhadap Allah SWT. Ilmu merupakan lautan pengetahuan yang tidak diketahui kedalamannya, dan puncak derajat manusia dalam hal ini adalah tingkatan para Nabi dan para wali, kemudian orang yang mengikuti dibawah mereka A. Ghazali, 2008, p. 35. Ketujuh, Hendaklah tujuan seorang murid adalah untuk menghiasi batinnya dengan sesuatu yang mengantarkannya kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita akan didekatkan dengan penghuni tertinggi dari orang-orang yang didekatkan al-muqorribun. Dengan menuntut ilmu kita akan dihadapkan dengan orang yang sudah mempunyai ketinggian dalam ilmunya, dan harus dan patut kita tirukan adalah tentang sikapnya dan cara perbuatannya, dengan tidak ada maksud untuk memperoleh kekuasaan, harta, dan pangkat lainnya. Etika Mengajar Guru menurut al-Ghazali adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa manusia, untuk mendekatkan diri taqarrub kepada Allah SWT. Hal tersebut tujuan utama pendidikan Islam yang utama adalah, upaya untuk mendekatkan diri kepadanya. Barang siapa yang memikul beban pengajaran, 32 Lasmi Rambe maka ia telah memikul perkara yang besar. Maka jagalah etika dan tugasnya seorang guru. Disini akan dipaparkan tentang tugas-tugas seorang guru kepada muridnya. Pertama, Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Sebagimana sabda Rasulullah saw A. Ghazali, 2008, p. 36. Sesungguhnya aku bagi kalian adalah seperti bapak terhadap anaknya. Guru adalah bapak rohani bagi muridnya, karena guru yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Karena itu, haknya didahulukan atas hak kedua orang ketuanya. Jika demikian hendaklah murid itu saling mencintai, karena para ulama dan pecinta akhirat mengembara atau berlomba-lomba menuju Allah swt, dan melewati jalan kepadanya dengan meninggalkan dunia beserta ketinggian dan kemasyhurannya untuk mendekat diri kepada Allah. Kedua, Mengikuti teladan Rasulullah saw, yaitu tidak meminta upah. Janganlah meminta upah atas pengajaran. Seorang guru walaupun mempunyai jasa terhadap para murid, namun mereka juga mempunyai jasa terhadapnya, karena dengan keberadaan mereka sebagai sebab yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dengan menanamkan ilmu dan keimanan ke dalam hati mereka A. Ghazali, 2008, p. 37. Ketiga, Tidak meninggalkan Nasihat. Seorang guru harus sebisa mungkin memperhatikan para muridnya dan mendidik dengan benar. Seperti melarang anak muridnya meloncat pada tingkatan sebelum berhak menerimanya dan mendalami ilmu tersembunyi sebelum menguasai hukum-hukum yang jelas. Keempat, Menasihati murid dan mencegahnya dari akhlak yang tercela. Seorang murid apabila melakukan sesuatu perbuatan yang salah, maka yang harus kita lakukan adalah dengan menasihati dengan pelan-pelan, buka dengan secara terang-terangan. Peneguran secara terang-terangan dapat menjatuhkan wibawanya. Hendaklah berlaku lurus terlebih dahulu sebelum memerintahkan anak muridnya berlaku lurus Istiqamah. Jika tidak, maka nasihat itu tidak bermanfaat, karena mengikuti perbuatan lebih berkesan dari pada mengikuti perkataan SIMPULAN Pengertian Murid menurut al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya-๎™จ๎ฏ๎žต๎ต๎žต๎œš๎œš๎๎ถ๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎๎žš๎žต๎˜ƒ ๎ž‰๎œ‚๎œš๎š๎๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ ๎™ค๎œ‚๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎ฏ๎žต๎ต๎๎ฅ•๎˜ƒ ๎Ÿ‡๎œ‚๎๎žš๎žต๎˜ƒtentang keutamanan menuntut ilmu. Istilah at-๎™ค๎œ‚๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎ฏ๎žต๎ต๎๎˜ƒ ๎๎ถ๎๎˜ƒ ๎ฏ๎œž๎œ๎๎š๎˜ƒ๎œ๎œž๎žŒ๎ž๎๎œจ๎œ‚๎žš๎˜ƒ ๎žต๎ถ๎๎Ÿ€๎œž๎žŒ๎ž๎œ‚๎ฏ๎ฅ•๎˜ƒ๎ฌ๎œ‚๎žŒ๎œž๎ถ๎œ‚๎˜ƒ๎ต๎œž๎ถ๎œ๎œ‚๎ฌ๎žต๎ž‰๎˜ƒ๎ž๎œž๎ต๎žต๎œ‚๎˜ƒ๎ฝ๎žŒ๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒyang menuntut ilmu pada semua tingkatan. Guru dalam pendapat al-๎˜ง๎š๎œ‚๎ŸŒ๎œ‚๎ฏ๎๎˜ƒ๎๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎๎žš๎žต๎˜ƒ๎˜ฆ๎œ‚๎œš๎๎ฏ๎œ‚๎š๎˜ƒ๎™ค๎œ‚๎ฅ›๎ฏ๎๎ต๎๎ฅ•๎˜ƒ๎Ÿ‡๎œ‚๎ถ๎๎˜ƒ๎œ‚๎žŒ๎žš๎๎ถ๎Ÿ‡๎œ‚๎˜ƒkeutamaan mengajar. Maka guru dapat diartikan orang yang mengajar dan orang yang berpengetahuan. Guru adalah orang yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Dalam menuntut ilmu haruslah menerapkan adanya sebuah etika dalam pembelajaran. Etika belajar Murid diantara yaitu Pertama, Mendahulukan kesucian jiwa dari pada kejelekan akhlak. Kedua, Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya. Ketiga, Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan yang tidak terpuji kepada guru. Keempat, Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia. Kelima, Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga mengetahui hakikatnya. Keenam, mencurahkan perhatian pada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat. Ketujuh, Hendaklah tujuan seorang murid adalah untuk menghiasi batinnya dengan sesuatu yang mengantarkannya kepada Allah SWT. Menurut al-Ghazali, tugas seorang guru yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa manusia, untuk mendekatkan diri taqarrub kepada Allah SWT. Etika mengajar Guru yaitu Pertama, Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Kedua, Mengikuti teladan Rasulullah saw, yaitu tidak meminta upah. Ketiga, Tidak meninggalkan Nasihat. Keempat, Menasihati murid dan mencegahnya dari akhlak yang tercela. REFERENSI Abburrazak, A. B. 2003. Inilah Kebenaran Puncak Hujjah Al-Ghazali untuk Para Pencari Kebenaran. Jakarta Pt Liman. Abdullah, M. A. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung Mizan. Ahmad, Z. A. 1975. Riwayat Hidup Al-Ghazali. Jakarta Bulan Bintang. Dedi Supriyadi. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung Pustaka Setia. Farhad, A. 2004. Menyingkap Rahasia Keajaiban-Keajaiban Ilmu Gaib Laduni Imam al-Ghazali. Surabaya PT Amelia. ๎˜ง๎š๎œ‚๎ŸŒ๎œ‚๎ฏ๎๎ฅ•๎˜ƒ๎˜„๎ฅ˜๎˜ƒ๎ฅพ๎งฎ๎งฌ๎งฌ๎งฌ๎ฅฟ๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜ฏ๎š๎Ÿ‡๎œ‚๎ฅ›๎˜ƒ๎™จ๎ฏ๎žต๎ต๎žต๎œš๎œš๎๎ถ๎ฅ˜๎˜ƒ๎™™๎œ‚๎๎žŒ๎ฝ๎˜ƒ๎™„๎œž๎ž๎๎žŒ๎ฅ—๎˜ƒ๎˜˜๎œ‚๎œ‚๎žŒ๎˜ƒ๎œ‚๎ฏ-Taqwa. ๎˜ง๎š๎œ‚๎ŸŒ๎œ‚๎ฏ๎๎ฅ•๎˜ƒ๎˜„๎ฅ˜๎˜ƒ๎ฅพ๎งฎ๎งฌ๎งฌ๎งด๎ฅฟ๎ฅ˜๎˜ƒ๎™„๎žต๎žš๎๎œ‚๎žŒ๎œ‚๎˜ƒ๎˜ฏ๎š๎Ÿ‡๎œ‚๎ฅ›๎˜ƒ๎™จ๎ฏ๎žต๎ต๎žต๎œš๎œš๎๎ถ๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜‘๎œ‚๎ถ๎œš๎žต๎ถ๎๎ฅ—๎˜ƒ๎™„๎๎ŸŒ๎œ‚๎ถ๎ฅ˜ Etika Murid dan Guru Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitan Ihya-Ulumuddin 33 Ghazali, A. H. M. bin M. a๎ฏ๎ฅ˜๎˜ƒ๎ฅพ๎งฎ๎งฌ๎งฌ๎งด๎ฅฟ๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜ฏ๎š๎Ÿ‡๎œ‚๎ฅš๎˜ƒ๎™จ๎ฏ๎žต๎ต๎žต๎œš๎œš๎๎ถ๎ฅ˜๎˜ƒ๎˜‘๎œž๎๎žŒ๎žต๎žš๎ฅ—๎˜ƒ๎˜˜๎œ‚๎žŒ๎žต๎ฏ๎˜ƒ๎˜ฆ๎๎ฌ๎žŒ๎ฅ˜ Hermawan, H. Filsafat Islam. Bandung Insan Mandiri. Hermawan, H., and Sunarya, Y. 1971. Al-Haqiqah fi Nazri Al -Ghazali. Cairo Dar al-๎™„๎œ‚๎ฅ›๎œ‚๎žŒ๎๎œจ๎ฅ˜ Jamali, M. F. Al. 1896. Filsafat ๎™—๎œž๎ถ๎œš๎๎œš๎๎ฌ๎œ‚๎ถ๎˜ƒ๎˜˜๎œ‚๎ฏ๎œ‚๎ต๎˜ƒ๎˜„๎ฏ๎˜ƒ๎™™๎žต๎žŒ๎ฅ›๎œ‚๎ถ๎ฅ˜๎˜ƒ๎™ž๎žต๎žŒ๎œ‚๎œ๎œ‚๎Ÿ‡๎œ‚๎ฅ—๎˜ƒ๎˜‘๎๎ถ๎œ‚๎˜ƒ๎˜ฏ๎ฏ๎ต๎žต๎ฅ˜ Jawas, Y. bin A. Q. 2016. Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Jawa Barat Pustaka at-Taqwa. Nasional, D. P. 2001. Ensiklopedi Islam. Jakarta PT Ichtiar Baru. Nasution, H. 1999. Filsafat Islam. Jakarta PT Gaya Media Pratama. Rahmat Hidayat. 2018. Etika Manajemen Perspektif Islam. Medan Lembaga Peduli pengembangan Pendidikan Indonesia LPPPI. Sirajuddin. 2007. Filsafat Islam. Jakarta PT Raja Grafindo Persada. Syadani, A. 1997. Filsafat Umum. Bandung Pustaka Setia. Syukur, H. A., and Masyharuddin. 2002. Intelektualisme Tasawuf Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Yaqin, A. M. . 2004. Mendidik Secara Alami. Jombang Lintas Media. Zar, S. 2004. Filsafat Islam filosof dan filasafatnya. Jakarta Raja Grafindo Persada. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this murid dan mencegahnya dari akhlak yang tercelaKetigaKetiga, Tidak meninggalkan Nasihat. Keempat, Menasihati murid dan mencegahnya dari akhlak yang Kebenaran Puncak Hujjah Al-Ghazali untuk Para Pencari KebenaranA B AbburrazakAbburrazak, A. B. 2003. Inilah Kebenaran Puncak Hujjah Al-Ghazali untuk Para Pencari Kebenaran. Jakarta Pt A AbdullahAbdullah, M. A. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung A AhmadAhmad, Z. A. 1975. Riwayat Hidup Al-Ghazali. Jakarta Bulan SupriyadiDedi Supriyadi. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung Pustaka Ulumuddin. Qairo Mesir Daar al-TaqwaA GhazaliGhazali, A. 2000. Ihya' Ulumuddin. Qairo Mesir Daar GhazaliGhazali, A. 2008. Mutiara Ihya' Ulumuddin. Bandung Pendidikan Dalam Al Qur'anM F JamaliAlJamali, M. F. Al. 1896. Filsafat Pendidikan Dalam Al Qur'an. Surabaya Bina dan Akhlak Penuntut IlmuY JawasJawas, Y. bin A. Q. 2016. Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu. Jawa Barat Pustaka Manajemen Perspektif Islam. Medan Lembaga Peduli pengembangan Pendidikan Indonesia LPPPIRahmat HidayatRahmat Hidayat. 2018. Etika Manajemen Perspektif Islam. Medan Lembaga Peduli pengembangan Pendidikan Indonesia LPPPI. Related PapersIndonesian nation is undergoing a severe trial by the increasing moral decline of the nation. Corruption , drugs , sex, fights and many other deviant behavior that everyday adorn the local and national media. Formal education institutions predicted as churning generation of people has not been fully able to carry out the mandate of the national education goals in the print generation morality. That is where boarding Miftahul Huda emerged as an alternative in efforts to reduce the destructive impact caused by the rate of change of era. The results showed that Ponpes Miftahul Huda has good concept in coaching noble character of students. Implementation of noble character education in schools is done integrally through two main points , namely teaching and habituation. Teaching students to understand the cognitive aspects as well as habituation by directly applying an understanding that has been gained in everyday activities .The aim of this research is to describe and analyze the ethics of teacher and students interaction according to perspective of Imam Al Ghazali in the book called Ihya' Ulumuddin to develop the concept of ethics in the field of education and as an effort to next generation of nation that has an ethics that fits to the purpose of education. This research used qualitative descriptive approaches and type of research used literature or library research. This research concludes that according to Imam Al Ghazali in the book called Ihya umumuddin a teacher must have an affection to the students, and imitate Rasulullah SAW in performing his teaching duties and intend to seek for Allah's pleasure. While the ethics of students interaction with the teacher according to Imam Al Ghazali the students must purify their soul from the negative morals and natures before study, so that the knowledge they will learn can be useful and embedded to their soul, and only seek for the pleasure of Allah SWT in studying. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis etika interaksi guru dan murid menurut prespektif Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin untuk mengembangkan konsep etika interaksi di bidang pendidikan dan sebagai upaya membentuk generasi penerus bangsa yang mempunyai etika sesuai dengan tujuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah kepustakaan atau library research. Adapun Teknik pengumpulan data adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable berupa catatan, jurnal, buku, dan lain sebagainya. Data dikumpulkan dalam wujud catatan/data analisa data yang dipakai adalah analisis isi content analysis. Dalam penelitian ini memberikan kesimpulan dari hasil penelitian , setelah ditelusuri dari kitab Ihya Ulumuddin didapatkan bahwa etika interaksi guru dengan murid menurut Imam Al Ghazali seorang guru harus memiliki kasih sayang kepada murid, meniru dan meneladani sifat Rasulullah SAW dalam melaksanakan tugas mengajarnya, dan berniat untuk mencari ridha Allah Swt. Sedangkan etika interaksi murid dengan guru menurut Imam Al Ghazali seorang murid harus mensucikan jiwanya dari akhlaq dan sifat tercela sebelum menuntut ilmu, agar ilmu yang akan ia pelajari dapat bermanfaat dan tertanam dalam jiwanya; serta dalam menuntut ilmu hanya mengharap ridha Allah islam pada hakikatnya semua manusia adalah peserta didik sebab, pada hakikatnya semua manusia adalah makhluk yang seantisa berada dalam proses perkembangan menuju kesempurnaan atau suatu tingkatan yang dipandang sempurna. Di samping itu di jumpai istilah lain yang sering di gunakan dalm bahasa arab yaitu tilmidz yang berarti pelajar, bentuk jamaโ€™nya adalah talamiz, kata ini lebih merujuk kepada pelajar yang belajar dari madrasah, kata lainnya yang sering digunakan adalah thalib yang artinya pencari ilmu, pelajar, atau mahasiswa. berarti oranng yang meminta. Ada juga yang menyebutkan peserta didik sebagai anak didik yang dalam pengertian umum adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seorang atau kelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sementara dalam arti yang sempit , anak didik adalah anak pribadi yang belum dewasa yang di serahkan kepada tanggung jawab pendidik. Namun, dalam Bahasa Indonesia makna siswa, murid, pelajar, dan peserta didik merupakan sinonim semuanya bermakna anak yang sedang berguru, anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari suatu lembaga pendidikan. Jadi, dapat dikatakan bahwa anak didik merupakan semua orang yang sedang belajar, baik di lembaga pendidikan formal maupun Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka library research, penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan tentang kitab Ayyuhal Walad, karya Imam al Ghazali. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan sifat-sifat atau karakteristik individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Hasil penelitian, pertama, konsep pendidikan karakter merupakan gambaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaa pendidikan karakter, baik terkait dengan definisi pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter dan nilai-nilai pendidikan karakter. Kedua,karakter atau akhlak menurut al-Ghazali adalah suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan dan pengalaman dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan redaksi lain, al-Ghazali juga berpendapat Pendidikan karakter adalah sebuah proses pembersihan jiwa. Dari jiwa yang bersih lahir perilaku yang baik, seperti jujur, dermawan, dan sabar. Ketiga, pendidikan karakter dalam kitab Ayyuhal Walad berisi nasihat al-Ghazali kepada muridnya yang meminta nasihat khusus, secara garis besar membehas tentang masalah akhlak kepada Allah, akhlak seorang pendidik, akhlak seorang pelajar, dan akhlak dalam pergaulan. Tujuan dari pembahasan pendidikan akhlak dalam kitab ini untuk mencetak pribadi yang baik, bermoral dan lebih mengutamakan kepentingan Allah Syariโ€™at daripada yang lainnya. Dan juga untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. di dunia maupun di research is related to how the personal competence of Teachers and Students in the Educational Perspective Interaction of KH. Hasyim Ash'ari contained in the book Adabul Alim wa Al-muta'allim. This research is in the form of library research with content analysis used as an analysis tool. The results of the analysis of the authors that the personal competence of teachers and students in the educational interaction perspective KH. Hasyim Ash'ari is an intense and close attachment not only in the sense of being born, but also inwardly alaqah batiniyah based on religios-etich for the success of the teaching and learning process. There are several interaction patterns that can be developed to create educational interactions between teacher and student perspectives KH. Hasyim Ash'ari, among them are Tazkiyatun nafs, al-Ikhlas, at-Tarahum, at-Tawadud. ABSTRAK Penelitian ini terkait dengan bagaimana kompetensi kepibadian Guru dan Murud dalam Interaksi Edukatif Perspektif KH. Hasyim Asy'ari yang tertuang dalam kitab Adabul Alim wa Al-muta'allim. Penelitian ini berbentuk library research dengan content analysis dijadikan sebagai alat analisisnya. Hasil dari analaisis penulis bahwa kompetensi kepribadian Guru dan Murid dalam interaksi edukatif perspektif KH. Hasyim Asy'ari adalah adanya keterikatan secara intens dan erat tidak hanya dalam artian secara lahir, akan tetapi juga secara batin alaqah batiniyah yang dilandasi religios-etich untuk keberhasilan proses belajar mengajar. Ada beberapa pola interaksi yang bisa dikembangkan untuk menciptakan interaksi edukatif antara guru dan murid perspektif KH. Hasyim Asy'ari, diantaranya adalah Tazkiyatun nafs, al-Ikhlas, at-Tarahum, at-Tawadud.

adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin